Hujan tak berkata, hujan jangan marah


Hujan yang turun siang ini mengalahkan sepi. Mendendangkan rintik syahdu walau tak menyayat hati. Merenungkan perjalanan hidup seorang musafir wanita. Sang wanita menengadahkan wajahnya, membiarkan hujan membasuh wajahnya yang sehabis menangis. Tangannya menggenggam sebuah harapan di tengah kesendirian.

Hari ini di bulan Juli, saat musim tak lagi dapat diprediksi. Sepi bersama alam, tak ada suara burung gereja yang terdengar sayup di kejauhan. Kembali ia menangis tersedu. Hidup sebatang kara membuat ia rapuh.

Kemudian ia melanjutkan perjalanan, menyelusuri kota. Bibirnya pucat karena kehujanan, rambut panjangnya tak lagi rapi. Angin sungguh baik, membisikkan kata-kata penyemangat. Bahwa masih ada harapan di ujung pelangi, tapi dimanakah dapat menemukan pelangi. Rasanya terlalu sulit untuk berjumpa dengannya, apakah kaki ini masih dapat melangkah?

Terkadang harapan yang dibawa suka melampaui batas normal. Menghujani setiap impian dengan balon warna warni seakan semuanya dapat terpenuhi.

Lirih syahdu kembali terdengar..sang wanita tak lagi bergerak. Kaku di tengah keramaian kota, membentuk sebuah kubikal sederhana berisi orang-orang yang sok perhatian. Mengelilingi, berkata tapi tak ada usaha.. Aku bukan tontonan, jangan kasihani aku.. Air mata pun mengalir lembut di wajah.

20140712-130036-46836724.jpg

You are My Alien


Aku berjalan mengendap-endap di antara pepohonan rindang. Meniti setiap sudut taman gersang itu. Entah..sesosok makhluk hitam terlihat bercahaya di tengah gelapnya malam. Apakah benar itu makhluk dari planet Mars yang ingin menghancurkan kota? Kupercepat langkah kakiku, kusorotkan lampu senter ke segala penjuru. Tak akan kubiarkan satu detik kejadian yang terlewatkan oleh mataku.

KRAKKK.

“Sial..” gerutuku, kenapa aku tidak hati-hati sih. Kusorotkan lampu senter ke arah benda yang tidak sengaja kuinjak, dan aku tersentak kaget karena yang kuinjak tumpukan tulang belulang manusia yang berserakan. Mendadak aku merasa mual, dan kulihat sesosok hitam dengan mata menyala menyadari kedatanganku. Aku berlari menghindari kejarannya, semakin cepat kuberlari semakin hilang nafasku. Aku seperti kehabisan oksigen dan mendadak tak sadarkan diri…

Terbangun aku dengan kepala berdenyut. Hanya mimpi ternyata. Aku bangun dan menghabiskan dua gelas air putih, rasanya seperti dehidrasi tingkat dewa, mungkin seperti seminggu di gurun Sahara tanpa minum. Padahal ke Gurun Sahara aja belum pernah, masa bodo deh. Aku mencoba mengingat kejadian semalam, hanya mimpikah pikirku. Apa jangan-jangan benar ada makhluk luar angkasa bertelepati, terus dia membuka jalanku ke taman itu. Tapi rasanya taman itu tidak asing, mungkin hanya pikiranku saja. Ya, ini khan hanya mimpi lebih baik aku segera bersiap karena aku bisa telat berangkat ke kantor dan ini hari Senin pula pasti macet banget.

“Serius Do, gw tuh semalem mimpi alien! Masa  lo gak percaya sih? aku berjalan mondar – mandir mengikuti langkah Edo yang lagi sibuk menyiapkan bahan meeting tahunan.

“Iyah Manda percaya gue, otak lo terlalu liar imajinasinya..mana ada alien di bumi” sahutnya santai. Sudah biasa Edo menjadi tempat aku menumpahkan segala cerita anehku yang entah darimana aku merangkainya. Dan kali ini tepatnya kesekian kalinya aku menceritakan mengenai alien. Pantas saja Edo tidak menghiraukan.

“Oke fine, do. Awas aja, gue gak bakalan mau nemenin makan siang lagi”, aku pergi dengan kesal. Lagian ngapain juga ngajak gue, khan masih ada Johan atau Nadia yang dia bisa ajak. Huh.

***

“Manda lo kemana aja sih, gue khan mau ngajak lo makan siang tadi?” Edo menghampiri mejaku. Hihhh ngapain coba dia nyamperin gue. Tadi aja gue cerita gak di dengerin. Aku bersikap tenang, pura-pura sibuk mengetik laporan produksi. “Yaelah sok sibuk nih, yakin gak mau gue traktir java latte lagi?”. Hihhh tawaran Edo emang dasyat, mau gak mau akhirnya mesti luluh deh.

“Ahh lagian sih lo jahat Do, gw khan lagi cerita”, sahutku. Edo ini seumuran denganku, bedanya sikapnya dewasa banget. Dia teman pertamaku juga di kantor agency ini. Katanya sih wajahku mirip adiknya, tapi beberapa temen bilang sebenernya Edo naksir aku. Whatever deh..

Akhirnya aku menceritakan mimpiku ke Edo, dan sekali lagi Edo menasehatiku bahwa itu cuma imajinasiku saja hanya mimpi. Mungkin juga bakalan ada suatu kejadian di kemudian hari. Aku bergidik, ahh masa sih tapi kayaknya nyata banget. Mungkin aku hanya lelah.

***

Taman ini..apakah diriku bermimpi? Kelanjutan mimpi yah ini, kok bisa? Sesaat aku memasang wajah bingung, sungguh aneh dan sungguh gak bisa di percaya. Baiklah, terserah dengan mimpi atau gak pokoknya kejelasan semua ini.

WUZZZZ

Sesosok hitam itu sedang berdiri membelakangi air mancur taman. Entah cahaya apa itu di dekatnya, redup dan sayup. Terus kuperhatikan gerak-geriknya dari balik pohon dan berharapa agar makhluk itu tidak menyadari keberadaanku. Aku mendekat selangkah demi selangkah untuk mencari tahu. EDO???! Bukan, bukan..dia memiliki postur tubuh seperti Edo. Jangan-jangan alien itu bertransformasi menjadi Edo setelah ia menelan Edo hidup-hidup? Aku berkeringat dingin, berusha agar tidak berteriak. Aku harus melaporkan ini semua, aku akan menghubungi Edo sekarang. Aku merogoh saku celanaku dan upss terjatuh.

BRUKKK

Makhluk itu menyadari keberadaanku, dia mendekat. Aku berlari sekuat tenagu. Jangan sampai dia menelanku hidup-hidup. Aku masih punya cita-cita, menikah dan memiliki keluarga. ARGGGHHHHH!!!

***

KRINGGGG!!!!

“Manda alarm mu sudah berbunyi dari tadi, kapan kamu bangun?” suara mama bergema di kepalaku. Dan ternyata mimpi lagi? Omaigot aku mengalami deja vu kah?? Aku akan menghubungi Edo apakah dia aman atau tidak. Kuraih ponsel di samping meja tempat tidurku. Yeah nomor Edo sudah kuhapal di luar kepala.

“Halo, kenapa Man?”

“Edo, lo masih hidup? Lo gak apa-apa khan?” aku bertanya

“ZZZZzz apan sih Man, pagi-pagi udah ribut. Mimpi aneh lagi pasti”

Edo selalu tepat menebak pikiranku. Sial nanti dikira sok perhatian lagi hihhhh!

“Apaan sih, emang gak boleh nanya?” aku merengut. Dalam hati aku bersyukur Edo baik-baik saja. Kalau Edo gak ada sma siapa lagi bisa curhat terus ditraktir makan siang. Tapi kalau dipikir Edo gak jelek kok, badanya oke walau gak atletis. Kegemarannya makan pasta membuat perutnya menonjol tapi gak lebay ketika duduk. Ihh apaan sih kenapa jadi ngebayangin Edo.

***

“Eh Manda, lo tuh yah mestinya sadar perasaan si Edo” Nadia bergumam.

“Nadiaaaa pelisss dehh, Edo tuh cuma gue anggep temen gak lebih” jelasku sambil sibuk mengunyah Cheetos keju kesukaanku.

“Lo yakin Man cuma temen? Lo gak ada rasa cemburu gitu soalnya tadi gw liat Edo ngobrol asik sama Chantika”

“Apaan sih Nad, ngapain juga mesti cemburu? Siapa diaa Hihhh”

Dalam hati aku berpikir, ngapain tuh si Edo ngobrol sama miss sok cantik. Ganjen amat sih!! Kenapa gue jadi panas gini yahh.

Selesai jam kantor aku dan Edo ke Starbucks terdekat. Aku memaksa Edo yang sudah hampir menaiki motornya untuk balik pulang. Edo tuh emang baik, temen yang selalu nemenin dan dengerin semua cerita-cerita aneh aku. Setiap aku bercerita Edo tidak pernah menyanggahku, dia selalu mendengarkan hingga selesai dan walau terkadang dia suka menyeletuk atau komen yang nyebelin tapi aku tidak pernah marah. Aku memperhatikan sosok Edo dari belakang, terbesit rasa ingin memiliki. Apa jangan-jangan aku jatuh cinta sama dia. Ahh aku ingat tentang Edo yang berubah menjadi alien hahaha tapi kutampik pikiranku, kalau cerita paling aku di teetawakan dia.

“Silahkan Manda, Java chip seperti biasa” Edo menyerahkan kopi pesananku.

“Thanks Do, btw tadi kata Nadia lo abis jalan sama Chantika?”.

“Kenapa cemburu?” Edo memasang muka nyebelin. Hihhhhh sumpah pengen cubit, apaan sih jangan sampai dia nanya macem-macem. Bisa kayak kepiting rebus muka ku!

“Apaaan gue khan cuma diceritain Nadia, enak aja cemburu” aku berkelit, akhh padahal mau tau banget. Pliss kasih tau Do penasaran nih kataku dalam hati. Manda bodoh banget sih kenapa gak jujur aja sama Edo, dan kemudian nyaliku ciut.

***

Entah kenapa semakin hari Chantika semakin nempel sama Edo. Hingga jam makan siang pun dia tetap asyik berbincang dengang Edo. “Do, makan yukk gw laper nih” renggutku.

“Sorry Man, hari ini gw udah janji nemenin Chantika ke resto baru di depan museum sana. WHATTT Edo nolak makan siang bareng ?? Biasanya dia yang ngajakin duluan.

“Ohh oke, kalau gitu gw makan sama Nadia dan Reno. Aku berlalu meninggalkan Edo yang tampaknya tidak enak denganku.

“Huahaha Edo nolak makan siang bareng lo Ma?” Nadia tertawa tampak tidak menyangka bahwa Edo akan berbuat demikian.

“Yaudah sih Man, khan masih ada kita ribet amat gak makan sama Edo doang” Reno menimpali.

“Iyah Ren, ngapain juga gw nunggu dia khan ada kalian berdua” kataku sambil menyuap sesendok penuh nasi katsu pesananku.

Nadia masih senyum-senyum melihat diriku yang uring-uringan. Reno hanya bisa diam melihatku makan dengan lahap seperti ini.

***

Sepulang kerja Edo mengirim BBM meminta maaf atas kejadian tadi siang. Sepertinya dia merasa tidak enak denganku karena lebih memilih menemani Chantika yang notabene baru dekat dengannya. “Santai aja sih Do, gw gak apa-apa. Lagian ngapain juga lo ngerasa gak enak sihh” aku membalas pesannya secepat kilat. Huh sebenarnya dari tadi siang aku menunggu pesan dari Edo untuk mengetahui apa penjelasannya, makan dimana, ngobrol apa sama si Chantika. Tapi kuurungkan niatku untuk bertanya duluan, karena bisa saja aku yang emosi duluan dan Edo akan bingung akan sikapku ini.

Esoknya sebagai permintaan maap kejadian kemarin Edo memberikan sepotong cup cake berwarna ungu, tebakanku sih rasa blueberry kesukaanlu dengan gambar piring terbang berwarna pink. Oke Edo yang jelas mengerti diriku yang menyukai sesuatu yang berbau luar angkasa itu pasti bersusah payah menemukan kue dengan design seperti ini. Sangat jarang loh sebuah toko membuat design seperti in i kecuali jika sedang ada acara atau event tertentu. Aku yang terkejut hanya bisa berisik gak jelas dengan bersenandung sambil memegangi kue cup cake itu. Menimangnya seakan itu seorang bayi. Ohh Edo kenapa sih baik banget “Your my alien” dehh. “HAH” maksudnya apa yahh aku berbicara seperti itu. Sorry yahh Do kamu tuh bukan apa-apa wekkk. Tanpa sepengetahuan Manda, Edo tersenyum melihat kelakuan Manda…

***

“Aku menyukai orang lain Chantika, maaf”

“Siapa Edo? Si Manda yang aneh penyuka makhluk alien gak jelas itu? Apa bagusnya sih cantik aja enggak” Chantika tidak terima ada orang yang menolaknya. Siapa juga yang berani menolak Chantika, udah cantik orang tuanya tajir pula. Liburan aja bisa kemana aja, baru minggu lalu dia pulang dari Paris.

“Ada seseorang yang aku sayangi, yah walaupun dia tidak menyadari setidaknya berada di dekatnya dan melihatnya tertawa saja sudah membuat aku senang” Edo menimpali.

Chantika yang merasa baru saja dipermalukan meninggalkan Edo di parkiran. Reno yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka menghampiri Edo. Reno penasaran siapa kah sosok wanita yang disukai Edo? Apa benar Manda, jika benar kemungkinan kesempatan untuk mendapatkan Manda bakalan kecil karena Edo bisa dikatakan dekat banget dengan Manda.

“Maaf Do, mungkin gak sopan gw mendengarkan percakapan lo sama Manda Tadi. Gw penasaran siapa yang lo suka tadi sampai menolak Manda”.

“Gak ada urusannya sama lo”Edo melesat pergi dengan mobilnya meninggalkan Reno yang masih penasaran. Sial sungut Reno.

Beberapa hari ini Reno semakin dekat denganku. Dia hampir menggantikan posisi Edo menemaniku makan siang, yah kadang sama si rempong Nadia sih kalau dia gak ada meeting. Well Reno baik kok, dia selalu ngasih coklat Cadburry black forest kesukaanku. Aku sih jujur sama sekali gak ada perasaan apa-apa sama Reno, abis si Nadia khan cinta mati sama Reno. Gila aja mau ngerebut Reno dari Nadia, gebetan udah 2 tahun tuh.

“Manda kamu pulang sama siapa nanti?” Reno membuka pembicaraandi sela waktu makan siang.

“What? Reno lo udah nanya pulang aja. Baru aja kita makan siang” aku menjitak kepalanya.

“Nanti pulang ngopi dulu yuk, ada yang mau aku bicarakan nih” Reno memasang tampang serius, dan aku pun mengangguk mengiyakan.

***

“Manda lo tuhh gak mau makan sama gw lagi? Mau marah sampai kapan sih?” Edo menghampiri mejaku. Semenjak Nadia menceritakan bahwa Edo jadian sama Chantika rasanya aku semakin marah sama Edo. “Lo gak cerita kalo jadian sama Chantika, padahal gw temen deket lo Do” aku membuang muka, tidak berani melihat wajahnya. “Tapi Manda, gw bisa jelasin..”

“Sorry Do, gw banyak kerjaan next time yah” aku berjalan meninggalkan Edo yang wajahnya terlihat sedih. Adug jadi gak enak sama Edo, padahal dia gak salah apa-apa. Mau jadian sama siapa kek emang apa urusannya denganku. Baiklah nanti akan aku hubungi dia.

Jalanan ibukota malam ini sungguh ramai. Untungnya tidak macet, aku masih bisa membuka jendela mobil Reno untuk menikmati udara malam. Reno memutarkan lagu the beatles kesukaanku, akhh rasanya santai banget pikiran. Kita berhenti di Starbucks di sebuah mall di daerah Sudirman. “Kamu mau pesan rasa apa Manda? Panas atau dingin?Kopi atau coklat?”Reno menawarkan pesanan padaku.

“Hmm Java chips aja Ren, terima kasih” aku tersenyum pada Reno yang kemudin berjalan untuk memesan minuman. Kalau Edo dia pasti sudah tau apa kesukaanku tanpa bertanya lagi. Tiba-tiba aku teringat Edo, aku mengeluarkan handphone dari dalam tas ku dan mencari nomor Edo. Kukirimi pesan kepadanya  aduhh aku bingung harus menulis apa. baiklah “Hay Do, maap yah tadi siang” tidak lupa aku menyisipkan emote senyum. SEND.

Tidak lama pesananku datang, Reno membawakanku Java Chip dan di tangan satunya greentea pesanannya. “Thanks Re, ngomong-ngomong apa yang mau dibicarakan nih?” aku memulai percakapan.

“Santai dulu kek Man, langsung ke topik aja” Reno menjulurkan lidah meledekku.

“Hahaha yah khan gak ada salahnya memulai percakapan dengan pertanyaan”.

“Lo ada hubungan apa sih sama si Edo?Kayaknya kalian deket banget.

Aku akhirnya menjelaskan kepada Reno bahwa saat ini antara aku dan Edo tidak ada hubungan apa-apa. Tapi sudah beberapa hari ini aku merasakan dadaku sakit setiap melihat kedekatan Edo dan Chantika. Mungkinkan ini yang namanya jatuh cinta. Rasanya kayak ngarep banget, lagian mana mungkin Edo suka sama orang aneh kayak aku. Kenapa harapan selalu tumbuh di atas ketidakpastian. Aku menghela nafas panjang, Reno hanya bisa tersenyum simpul. Sudah terjawab, sepertinya tidak ada harapan mendapatkan hatimu Manda.

***

Mimpi yang sama kembali terulang. Cahaya itu semakin mendekat, menyilaukan mata. Sesosok bayangan hitam menghampiriku dari baliknya malam. Tapi kenapa aku tidak lari? Aku hanya merasa dia tidak berbahaya, bahkan aku menghampirinya. Aku memicingkan mataku, dia seperti seseorang yang kukenal seperti…EDO?!!

Aku terbangun. Jam dinding kamar masih menunjukkan pukul 03.00 pagi. Aku berusaha mengingat mimpiku. Kenapa Edo?? Ohh sepertinya bayangan Edo berkelebat di pikiranku dan berputar-putar. Sepertinya memang aku menyukai dia, your my alien do. Hari ini aku yang akan mengajaknya makan siang. Kembali aku membaca pesan singkat dari Edo yang mengucapkan selamat malam dengan emote kiss yang aku balas dengan emote yang sama plus tonjokan. Hey Do..pegang tanganku, dapatkah kamu merasakan tubuh kita melayang jika kita bersama? Ketika jatuh cinta, segalanya jadi kabur, maksudnya kabur ke hatimu do. Diam-diam aku merindukan senyumnya..

 Image

Sikap #6


Eh kamu emang apa sih yang sebenernya kamu rasain terhadapku? Sungguhkah kamu ada rasa sama aku? Aku bingung dalam sepi, saat kamu bilang sayang padaku. Benarkah yang kamu rasa? Benarkah yang kamu katakan? Bimbang dan ragu atas perasaanmu sejak kamu bilang kamu merasa takut akan hubungan ini. Aku ragu saat kamu bilang malu, walau aku senang saat kamu bilang merasa salah tingkah saat bersamaku.

Hei kita dekat dalam kurun waktu dua bulan ini. Walau tidak pernah benar bertatap muka, tapi dengan lancar kita berkirim pesan singkat. Tapi kamu harus tau, tidak cukup jika hanya seperti ini saja. Memang kamu gak mau menemuiku secara langsung?

Hmm rasanya tidak ada sesuatu yang baru. Saat tidak sengaja kubuka twittermu, kamu jarang update. Blackberrymu bisa dihitung jari kala kamu mengganti profile picture mu. Ahh iya kamu khan si Mr. Busy pastinya lagi sibuk dengan perkerjaanmu. Fokus pada sesuatu yang menafkahimu.

Menunggu balasan ввм membuatku mengantuk. Balasanmu lama sekali, bahkan sambil mencuci piring yang banyaknya hingga 50 buah saja masih ada waktu. Sudahlah, mungkin yang kamu bilang hanyalah kata untuk seorang kakak kepada adiknya. Seperti yang selama ini kamu katakan. Hei hei ini bukan menulis diari, tapi ini seperti aku menceritakan kepada kalian semua apa yang aku pikirkan dan rasakan. Baiklah aku juga gak marah kalau kalian gak mau mendengarkan atau membacanya. Huh.

Ahh rasanya aku ingin melukis, mungkin kupikir melukis padang lavender dengan pensil lebih mudah daripada aku menggunakan kuas-kuas kecilku dengan cat air beraneka warna. Sulit..dan yah sulit. Sebenarnya yang aku lakukan ini hanya untuk membuang waktuku, membuang ingatan jikalau memang perasaanmu hanya kiasan saja.

***

Hai cantik, kamu kok diam saja? Apakah kamu gak mau berbicara dengan rekanmu? Apakah kamu gak mau bisa tertawa bareng? Aku melihat dirimu bukan seorang yang pendiem loh, tapi mungkin kamu butuh proses agar bisa berbaur dengan lingkungan ini. Kalau aku bisa membisikkan, mereka asik-asik loh jadi tinggal bagaimana kamu bisa mempertahankan komunikasinya aja.

Kamu terlihat diam di pojokan. Bukan karena kamu ingin, tapi kamu masih bingung apa yang harus dilakukan. Hei jika kamu bingung, kami semua tidak melarang kamu untuk berbicara kok. Aku pikir kamu orang yang baik, ayo coba berusaha untuk bisa satu visi dengan lainnya.

Bukan aku terlalu pede, tiap aku masuk ke dalam matamu selalu melirik ke arahku. Aku sadar kamu ingin memulai perkenalan, dan aku sendiri lebih ingin kamu yang maju untuk berani mengungkapkan. Ayo cantik, mungkin kamu akan bertambah cantik jika lebih sedikit ‘nakal’ dengan celotehan dan tawamu.

Sikap!! #4


Hujan hujan..Banyak yang bilang kalo hujan itu musibah, bencana, atau wabah *dikira kuman kali*. Tapi menurut gw hujan itu anget..kenapa anget??? khan lo bisa buat secangkir cappucinno hangat, atau honey tea buat angetin badan. Tambah anget juga kalo lo minumnya bareng pacar. Asikk khan tuh hahaha :3

Pulang kerja hari ini kayak di sinetron-sinetron loh. Seorang cewek berjalan di tengah rintik hujan..menunggu sang pelangi di ujung jalan sana -_- yakali. Bukan pelangi malah abang angkot!!

Dan..Omaigott!! ini kejadian paling amazing menurut gw. Yakali bangku angkot yg dari besi bisa patah, khan penumpangnya repot. Dikata abangnya sih tadi ada penumpang ibu-ibu badannya ‘gede’ brukkk gitu menurutnya -_- jadi kita duduk kayak naik mainan anak SD dulu yah jungkat-jungkit. Kalau yang gatau dikasih suprise kaget dikit, khan bangkunya amblas.

“Aku pulang..” tumben nih rumah sepi-sepi aje kayak kuburan. Mana malam jumat lagi, bikin ngeri aja deh..

“Maaamaaaa” Idihhhh pada kemana deh, gerutuku.

Sepertinya tidak ada orang di rumah. Yasudah mandi aja deh, sambil nunggu orang rumah pulang. Sayup-sayup terdengar dari atas rumah bunyi berbisik.  Ahh mungkin itu hanya suara gesekan pohon yang tertiup angin, mungkin di luar sana sedang hujan badai, pikirku sambil menyemangati diri sendiri.

“Krek..krekkk..”

Bunyi gesekan itu semakin kencang, suaranya memang tidak jauh sihh. Ahh sial bulu kuduk makin merinding!! Mana di rumah lagi gak da siapa-siap pula -_- hufft

Kuberanikan diri untuk mencari sumber dari gesekan tersebut. Kutelusuri semua bagian bawah rumah. Dapur kosong, ruang tamu sunyi senyap. Kamar mandi bawah juga abis gw pake mandi, pasti gak ada siapa-siapa di dalam sana.

“Krik..krikkk..krikk”

Mata ini semakin mengecil. Mencari..dan mencari sumber suara itu. Semakin dekat kutemukan suara yang mengusikku………………………………………………………..HAPPY BIRTHDAY!!!!!

 

 

Cari Hati


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Mata ini masih belum juga dapat terpejam. Aku masih menunggu Aska yang sudah 4 hari tidak menghubungiku.
Tik..tok..tik..tok..
“Buat apa aku menunggu yang gak pasti, cuma membuat pikiran lelah saja” kataku dalam hati. Sambil mencoba tidur aku memutar lagu-lagu maroon5 kesukaanku. Kubuka notes kecilku..
Dear diary kuno banget yah kesannya. Tapi emang namanya diary, masa mau diubah jadi dear notes ( ⌣ ́_ ⌣ ̀)
Kutulis beberapa kata, beberapa baik kalimat tentang isi hatiku. Tapi ahh untuk apa kutulis rindu ini jika Aska saja tidak memikirkanku. Kuingat lagi kejadian hari minggu lalu. Hanya gara2 aku tidak membangunkannya untuk pergi ke gereja dia tidak suka, dan aku membatalkan karena aku sakit dia menganggap aku tidak memberitahunya. Ahh sudahlah, dia memang tidak dewasa..

Mereka yang memaki cinta, sesungguhnya mereka sangat menginginkan cinta. Hanya karena pernah kecewa, bukan berarti tak bisa bahagia..

Ahh mata gw..efek gak bisa tidur semalem mikirin Aska!
“Maa aku berangkat”
“Hati-hati nak..kamu gak sarapan dulu?” Mama cuma geleng kepala melihatku yang terburu-buru karena hampir ditinggal pak Husni.

Dear awan, dapatkah kamu merasakan rasanya kesepian?
Ahh kenapa jadi puitis gini yah -__-
Di kampus saja, dia gak negur gw. Dia malah jalan sama teman-temannya. Gw pun ikutin permainan dia. Toh udh biasa sendiri jadi gak membawa pengaruh besar juga buat kehidupan gw!

Hari ke 5

Aska belum juga menghubungiku. Terkadang aku masih mencari dirinya. Bertanya kepada hati, sedang apa kamu. Tidakkah kamu merindukan diriku?
Ahh rasanya jika seperti ini, ingin membuang semua bayangan Aska dari pikiranku..

Cinta adalah ketika kamu telah meyakinkan dirimu bahwa kamu telah melupakannya, tapi kamu masih temukan dirimu peduli padanya~

Tak peduli berapa kali kamu disakiti oleh cinta, percayalah, ada seseorang diluar sana yang akan menyembuhkanmu dan buatmu bahagia..

Hari ke 6
Aska belum juga menghubungiku. Perasaanku kian campur aduk. Haruskah aku yerus menunggunya dengan tidak pasti? Apa aku harus melupakannya dan terus berjalan? Dia memang pacar pertamaku, tapi janganlah mempermainkan perasaan ini. Tidakkah ia rindu suaraku? Rindu perhatianku? Atau sudah ada orang baru yang menemanimu?

Kupandangi awan yang berjalan tertiup angin. Langit yang biru seakan mempertegas bahwa dunia masih luas dan panjang untuk dilewati. Ku kenakan topiku dan kugapai tasku. Cari hati..

M2M – The day you went away