Freedom Speech · Uncategorize

Pro dan Kontra larangan duduk ngangkang di Motor

Seperti baru-baru ini, ramai di beritakan bahwa ada aturan baru yang dibuat oleh Pemerintah kota Aceh tentang larangan duduk mengangkang saat berboncengan di sepeda motor.
Dikutip dari Jawa Pos (JPNN.com), ketua umum Pimpinan Pusat (PP) pemuda Muhammadiyah, Saleh Partaonan Daulay menilai, perda Pemkot Lhoksemauwe, Aceh larangan itu tidak ada kaitannya dengan syariat islam. “Pasalnya dalam literatur fiqih islam mulai dari klasik maupun kontemporer, tidak ditemukan aturan mengenai masalah ini. Orang yang duduk menyamping tidak akan lebih islami dibanding orang yang duduk mengangkang. Dan sangat tidak rasional bila syariat islam di persepsikan sedangkal itu, justru perda ini mereduksi syariat islam itu sendiri”, kata Saleh.
Bagaimana tanggapan Mendagri saat ini? Menteri agama menyingkapi aturan ini? Jika kita lihat lebih dalam, masih banyak persoalan di masyarakat yang harus diselesaikan dibandingkan ini. Yang perlu diatur justru bagaimana membuat masyarakat nyaman, bukan justru merugikan. Lihat apakah pemerintah sudah bisa mensejahterakan rakyatnya? Aturan memang dibuat untuk ditaati, tapi sebelumnya lebih baik ditelaah lebih jauh mengenai dampaknya untuk orang banyak.
Dikutip dari Kompas.com : Komisioner Komnas Perempuan, Neng Dara Affifah menyatakan larangan itu tidak produktif. Peraturan harusnya memberi manfaat kepada masyarakat tanpa melihat gender tertentu. Jika peraturan ini dibuat, justru akan menghabiskan dana saja tanpa manfaat apapun. Kesantunan mengalahkan keamanan bagi perempuan. Keamanan mesti didahulukan karena santun tidak ada ukurannya, daripada celaka apabila duduk menyamping lebih baik duduk menyilang”, jelasnya.
Bagi saya pun, larangan seperti dilarang duduk ngangkang saat berbonceng di sepeda motor merupakan kesalahan terbesar. Sebelum di berlakukan lebih baik dilihat dari sisi umum perempuang terlebih dahulu :
1. Duduk menyamping akan lebih membahayakan, apalagi sampai berlaku di Jakarta. Jika jalanan macet, motor pasti dengan sigap menyalip. Jika kita tidak hati-hati, kita bisa terseret oleh kendaraan yang lebih besar.
2. Perempuan itu pasti memakai rok untuk bekerja maupun aktifitas lainnya. Apakah sudah dipikirkan, karena apabila perempuan duduk menyamping roknya akan berkibar. Dan sama saja akan membuat malu kaum perempuan.
3. Tingkat keamanan menurun, dibandingkan duduk menyilang duduk menyamping lebih membahayakan keselamatan. Bagaimana larangan bukan muhrimnya, jika duduk menyilang kita sebagai kaum perempuan bisa untuk tidak berpegang pada si pengendara ojek.

Sebaiknya larangan ini dipikirkan matang-matang secara mufakat. Ambil jalan terbaik, jangan menyusahkan kaum perempuan atau orang banyak. Daripada dibuat aturan larangan itu, lebih baik pemerintah membuat undang-undang perlindungan kaum perempuan. Kasus pemerkosaan saja saat ini masih merajalalela..tidak malu apa? Jangan hanya mendiskriminasi kaum perempuan saja..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s