all about LOVE ♥

You are My Alien

Aku berjalan mengendap-endap di antara pepohonan rindang. Meniti setiap sudut taman gersang itu. Entah..sesosok makhluk hitam terlihat bercahaya di tengah gelapnya malam. Apakah benar itu makhluk dari planet Mars yang ingin menghancurkan kota? Kupercepat langkah kakiku, kusorotkan lampu senter ke segala penjuru. Tak akan kubiarkan satu detik kejadian yang terlewatkan oleh mataku.

KRAKKK.

“Sial..” gerutuku, kenapa aku tidak hati-hati sih. Kusorotkan lampu senter ke arah benda yang tidak sengaja kuinjak, dan aku tersentak kaget karena yang kuinjak tumpukan tulang belulang manusia yang berserakan. Mendadak aku merasa mual, dan kulihat sesosok hitam dengan mata menyala menyadari kedatanganku. Aku berlari menghindari kejarannya, semakin cepat kuberlari semakin hilang nafasku. Aku seperti kehabisan oksigen dan mendadak tak sadarkan diri…

Terbangun aku dengan kepala berdenyut. Hanya mimpi ternyata. Aku bangun dan menghabiskan dua gelas air putih, rasanya seperti dehidrasi tingkat dewa, mungkin seperti seminggu di gurun Sahara tanpa minum. Padahal ke Gurun Sahara aja belum pernah, masa bodo deh. Aku mencoba mengingat kejadian semalam, hanya mimpikah pikirku. Apa jangan-jangan benar ada makhluk luar angkasa bertelepati, terus dia membuka jalanku ke taman itu. Tapi rasanya taman itu tidak asing, mungkin hanya pikiranku saja. Ya, ini khan hanya mimpi lebih baik aku segera bersiap karena aku bisa telat berangkat ke kantor dan ini hari Senin pula pasti macet banget.

“Serius Do, gw tuh semalem mimpi alien! Masa  lo gak percaya sih? aku berjalan mondar – mandir mengikuti langkah Edo yang lagi sibuk menyiapkan bahan meeting tahunan.

“Iyah Manda percaya gue, otak lo terlalu liar imajinasinya..mana ada alien di bumi” sahutnya santai. Sudah biasa Edo menjadi tempat aku menumpahkan segala cerita anehku yang entah darimana aku merangkainya. Dan kali ini tepatnya kesekian kalinya aku menceritakan mengenai alien. Pantas saja Edo tidak menghiraukan.

“Oke fine, do. Awas aja, gue gak bakalan mau nemenin makan siang lagi”, aku pergi dengan kesal. Lagian ngapain juga ngajak gue, khan masih ada Johan atau Nadia yang dia bisa ajak. Huh.

***

“Manda lo kemana aja sih, gue khan mau ngajak lo makan siang tadi?” Edo menghampiri mejaku. Hihhh ngapain coba dia nyamperin gue. Tadi aja gue cerita gak di dengerin. Aku bersikap tenang, pura-pura sibuk mengetik laporan produksi. “Yaelah sok sibuk nih, yakin gak mau gue traktir java latte lagi?”. Hihhh tawaran Edo emang dasyat, mau gak mau akhirnya mesti luluh deh.

“Ahh lagian sih lo jahat Do, gw khan lagi cerita”, sahutku. Edo ini seumuran denganku, bedanya sikapnya dewasa banget. Dia teman pertamaku juga di kantor agency ini. Katanya sih wajahku mirip adiknya, tapi beberapa temen bilang sebenernya Edo naksir aku. Whatever deh..

Akhirnya aku menceritakan mimpiku ke Edo, dan sekali lagi Edo menasehatiku bahwa itu cuma imajinasiku saja hanya mimpi. Mungkin juga bakalan ada suatu kejadian di kemudian hari. Aku bergidik, ahh masa sih tapi kayaknya nyata banget. Mungkin aku hanya lelah.

***

Taman ini..apakah diriku bermimpi? Kelanjutan mimpi yah ini, kok bisa? Sesaat aku memasang wajah bingung, sungguh aneh dan sungguh gak bisa di percaya. Baiklah, terserah dengan mimpi atau gak pokoknya kejelasan semua ini.

WUZZZZ

Sesosok hitam itu sedang berdiri membelakangi air mancur taman. Entah cahaya apa itu di dekatnya, redup dan sayup. Terus kuperhatikan gerak-geriknya dari balik pohon dan berharapa agar makhluk itu tidak menyadari keberadaanku. Aku mendekat selangkah demi selangkah untuk mencari tahu. EDO???! Bukan, bukan..dia memiliki postur tubuh seperti Edo. Jangan-jangan alien itu bertransformasi menjadi Edo setelah ia menelan Edo hidup-hidup? Aku berkeringat dingin, berusha agar tidak berteriak. Aku harus melaporkan ini semua, aku akan menghubungi Edo sekarang. Aku merogoh saku celanaku dan upss terjatuh.

BRUKKK

Makhluk itu menyadari keberadaanku, dia mendekat. Aku berlari sekuat tenagu. Jangan sampai dia menelanku hidup-hidup. Aku masih punya cita-cita, menikah dan memiliki keluarga. ARGGGHHHHH!!!

***

KRINGGGG!!!!

“Manda alarm mu sudah berbunyi dari tadi, kapan kamu bangun?” suara mama bergema di kepalaku. Dan ternyata mimpi lagi? Omaigot aku mengalami deja vu kah?? Aku akan menghubungi Edo apakah dia aman atau tidak. Kuraih ponsel di samping meja tempat tidurku. Yeah nomor Edo sudah kuhapal di luar kepala.

“Halo, kenapa Man?”

“Edo, lo masih hidup? Lo gak apa-apa khan?” aku bertanya

“ZZZZzz apan sih Man, pagi-pagi udah ribut. Mimpi aneh lagi pasti”

Edo selalu tepat menebak pikiranku. Sial nanti dikira sok perhatian lagi hihhhh!

“Apaan sih, emang gak boleh nanya?” aku merengut. Dalam hati aku bersyukur Edo baik-baik saja. Kalau Edo gak ada sma siapa lagi bisa curhat terus ditraktir makan siang. Tapi kalau dipikir Edo gak jelek kok, badanya oke walau gak atletis. Kegemarannya makan pasta membuat perutnya menonjol tapi gak lebay ketika duduk. Ihh apaan sih kenapa jadi ngebayangin Edo.

***

“Eh Manda, lo tuh yah mestinya sadar perasaan si Edo” Nadia bergumam.

“Nadiaaaa pelisss dehh, Edo tuh cuma gue anggep temen gak lebih” jelasku sambil sibuk mengunyah Cheetos keju kesukaanku.

“Lo yakin Man cuma temen? Lo gak ada rasa cemburu gitu soalnya tadi gw liat Edo ngobrol asik sama Chantika”

“Apaan sih Nad, ngapain juga mesti cemburu? Siapa diaa Hihhh”

Dalam hati aku berpikir, ngapain tuh si Edo ngobrol sama miss sok cantik. Ganjen amat sih!! Kenapa gue jadi panas gini yahh.

Selesai jam kantor aku dan Edo ke Starbucks terdekat. Aku memaksa Edo yang sudah hampir menaiki motornya untuk balik pulang. Edo tuh emang baik, temen yang selalu nemenin dan dengerin semua cerita-cerita aneh aku. Setiap aku bercerita Edo tidak pernah menyanggahku, dia selalu mendengarkan hingga selesai dan walau terkadang dia suka menyeletuk atau komen yang nyebelin tapi aku tidak pernah marah. Aku memperhatikan sosok Edo dari belakang, terbesit rasa ingin memiliki. Apa jangan-jangan aku jatuh cinta sama dia. Ahh aku ingat tentang Edo yang berubah menjadi alien hahaha tapi kutampik pikiranku, kalau cerita paling aku di teetawakan dia.

“Silahkan Manda, Java chip seperti biasa” Edo menyerahkan kopi pesananku.

“Thanks Do, btw tadi kata Nadia lo abis jalan sama Chantika?”.

“Kenapa cemburu?” Edo memasang muka nyebelin. Hihhhhh sumpah pengen cubit, apaan sih jangan sampai dia nanya macem-macem. Bisa kayak kepiting rebus muka ku!

“Apaaan gue khan cuma diceritain Nadia, enak aja cemburu” aku berkelit, akhh padahal mau tau banget. Pliss kasih tau Do penasaran nih kataku dalam hati. Manda bodoh banget sih kenapa gak jujur aja sama Edo, dan kemudian nyaliku ciut.

***

Entah kenapa semakin hari Chantika semakin nempel sama Edo. Hingga jam makan siang pun dia tetap asyik berbincang dengang Edo. “Do, makan yukk gw laper nih” renggutku.

“Sorry Man, hari ini gw udah janji nemenin Chantika ke resto baru di depan museum sana. WHATTT Edo nolak makan siang bareng ?? Biasanya dia yang ngajakin duluan.

“Ohh oke, kalau gitu gw makan sama Nadia dan Reno. Aku berlalu meninggalkan Edo yang tampaknya tidak enak denganku.

“Huahaha Edo nolak makan siang bareng lo Ma?” Nadia tertawa tampak tidak menyangka bahwa Edo akan berbuat demikian.

“Yaudah sih Man, khan masih ada kita ribet amat gak makan sama Edo doang” Reno menimpali.

“Iyah Ren, ngapain juga gw nunggu dia khan ada kalian berdua” kataku sambil menyuap sesendok penuh nasi katsu pesananku.

Nadia masih senyum-senyum melihat diriku yang uring-uringan. Reno hanya bisa diam melihatku makan dengan lahap seperti ini.

***

Sepulang kerja Edo mengirim BBM meminta maaf atas kejadian tadi siang. Sepertinya dia merasa tidak enak denganku karena lebih memilih menemani Chantika yang notabene baru dekat dengannya. “Santai aja sih Do, gw gak apa-apa. Lagian ngapain juga lo ngerasa gak enak sihh” aku membalas pesannya secepat kilat. Huh sebenarnya dari tadi siang aku menunggu pesan dari Edo untuk mengetahui apa penjelasannya, makan dimana, ngobrol apa sama si Chantika. Tapi kuurungkan niatku untuk bertanya duluan, karena bisa saja aku yang emosi duluan dan Edo akan bingung akan sikapku ini.

Esoknya sebagai permintaan maap kejadian kemarin Edo memberikan sepotong cup cake berwarna ungu, tebakanku sih rasa blueberry kesukaanlu dengan gambar piring terbang berwarna pink. Oke Edo yang jelas mengerti diriku yang menyukai sesuatu yang berbau luar angkasa itu pasti bersusah payah menemukan kue dengan design seperti ini. Sangat jarang loh sebuah toko membuat design seperti in i kecuali jika sedang ada acara atau event tertentu. Aku yang terkejut hanya bisa berisik gak jelas dengan bersenandung sambil memegangi kue cup cake itu. Menimangnya seakan itu seorang bayi. Ohh Edo kenapa sih baik banget “Your my alien” dehh. “HAH” maksudnya apa yahh aku berbicara seperti itu. Sorry yahh Do kamu tuh bukan apa-apa wekkk. Tanpa sepengetahuan Manda, Edo tersenyum melihat kelakuan Manda…

***

“Aku menyukai orang lain Chantika, maaf”

“Siapa Edo? Si Manda yang aneh penyuka makhluk alien gak jelas itu? Apa bagusnya sih cantik aja enggak” Chantika tidak terima ada orang yang menolaknya. Siapa juga yang berani menolak Chantika, udah cantik orang tuanya tajir pula. Liburan aja bisa kemana aja, baru minggu lalu dia pulang dari Paris.

“Ada seseorang yang aku sayangi, yah walaupun dia tidak menyadari setidaknya berada di dekatnya dan melihatnya tertawa saja sudah membuat aku senang” Edo menimpali.

Chantika yang merasa baru saja dipermalukan meninggalkan Edo di parkiran. Reno yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka menghampiri Edo. Reno penasaran siapa kah sosok wanita yang disukai Edo? Apa benar Manda, jika benar kemungkinan kesempatan untuk mendapatkan Manda bakalan kecil karena Edo bisa dikatakan dekat banget dengan Manda.

“Maaf Do, mungkin gak sopan gw mendengarkan percakapan lo sama Manda Tadi. Gw penasaran siapa yang lo suka tadi sampai menolak Manda”.

“Gak ada urusannya sama lo”Edo melesat pergi dengan mobilnya meninggalkan Reno yang masih penasaran. Sial sungut Reno.

Beberapa hari ini Reno semakin dekat denganku. Dia hampir menggantikan posisi Edo menemaniku makan siang, yah kadang sama si rempong Nadia sih kalau dia gak ada meeting. Well Reno baik kok, dia selalu ngasih coklat Cadburry black forest kesukaanku. Aku sih jujur sama sekali gak ada perasaan apa-apa sama Reno, abis si Nadia khan cinta mati sama Reno. Gila aja mau ngerebut Reno dari Nadia, gebetan udah 2 tahun tuh.

“Manda kamu pulang sama siapa nanti?” Reno membuka pembicaraandi sela waktu makan siang.

“What? Reno lo udah nanya pulang aja. Baru aja kita makan siang” aku menjitak kepalanya.

“Nanti pulang ngopi dulu yuk, ada yang mau aku bicarakan nih” Reno memasang tampang serius, dan aku pun mengangguk mengiyakan.

***

“Manda lo tuhh gak mau makan sama gw lagi? Mau marah sampai kapan sih?” Edo menghampiri mejaku. Semenjak Nadia menceritakan bahwa Edo jadian sama Chantika rasanya aku semakin marah sama Edo. “Lo gak cerita kalo jadian sama Chantika, padahal gw temen deket lo Do” aku membuang muka, tidak berani melihat wajahnya. “Tapi Manda, gw bisa jelasin..”

“Sorry Do, gw banyak kerjaan next time yah” aku berjalan meninggalkan Edo yang wajahnya terlihat sedih. Adug jadi gak enak sama Edo, padahal dia gak salah apa-apa. Mau jadian sama siapa kek emang apa urusannya denganku. Baiklah nanti akan aku hubungi dia.

Jalanan ibukota malam ini sungguh ramai. Untungnya tidak macet, aku masih bisa membuka jendela mobil Reno untuk menikmati udara malam. Reno memutarkan lagu the beatles kesukaanku, akhh rasanya santai banget pikiran. Kita berhenti di Starbucks di sebuah mall di daerah Sudirman. “Kamu mau pesan rasa apa Manda? Panas atau dingin?Kopi atau coklat?”Reno menawarkan pesanan padaku.

“Hmm Java chips aja Ren, terima kasih” aku tersenyum pada Reno yang kemudin berjalan untuk memesan minuman. Kalau Edo dia pasti sudah tau apa kesukaanku tanpa bertanya lagi. Tiba-tiba aku teringat Edo, aku mengeluarkan handphone dari dalam tas ku dan mencari nomor Edo. Kukirimi pesan kepadanya  aduhh aku bingung harus menulis apa. baiklah “Hay Do, maap yah tadi siang” tidak lupa aku menyisipkan emote senyum. SEND.

Tidak lama pesananku datang, Reno membawakanku Java Chip dan di tangan satunya greentea pesanannya. “Thanks Re, ngomong-ngomong apa yang mau dibicarakan nih?” aku memulai percakapan.

“Santai dulu kek Man, langsung ke topik aja” Reno menjulurkan lidah meledekku.

“Hahaha yah khan gak ada salahnya memulai percakapan dengan pertanyaan”.

“Lo ada hubungan apa sih sama si Edo?Kayaknya kalian deket banget.

Aku akhirnya menjelaskan kepada Reno bahwa saat ini antara aku dan Edo tidak ada hubungan apa-apa. Tapi sudah beberapa hari ini aku merasakan dadaku sakit setiap melihat kedekatan Edo dan Chantika. Mungkinkan ini yang namanya jatuh cinta. Rasanya kayak ngarep banget, lagian mana mungkin Edo suka sama orang aneh kayak aku. Kenapa harapan selalu tumbuh di atas ketidakpastian. Aku menghela nafas panjang, Reno hanya bisa tersenyum simpul. Sudah terjawab, sepertinya tidak ada harapan mendapatkan hatimu Manda.

***

Mimpi yang sama kembali terulang. Cahaya itu semakin mendekat, menyilaukan mata. Sesosok bayangan hitam menghampiriku dari baliknya malam. Tapi kenapa aku tidak lari? Aku hanya merasa dia tidak berbahaya, bahkan aku menghampirinya. Aku memicingkan mataku, dia seperti seseorang yang kukenal seperti…EDO?!!

Aku terbangun. Jam dinding kamar masih menunjukkan pukul 03.00 pagi. Aku berusaha mengingat mimpiku. Kenapa Edo?? Ohh sepertinya bayangan Edo berkelebat di pikiranku dan berputar-putar. Sepertinya memang aku menyukai dia, your my alien do. Hari ini aku yang akan mengajaknya makan siang. Kembali aku membaca pesan singkat dari Edo yang mengucapkan selamat malam dengan emote kiss yang aku balas dengan emote yang sama plus tonjokan. Hey Do..pegang tanganku, dapatkah kamu merasakan tubuh kita melayang jika kita bersama? Ketika jatuh cinta, segalanya jadi kabur, maksudnya kabur ke hatimu do. Diam-diam aku merindukan senyumnya..

 Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s