all about LOVE ♥

Godzilla – Review Movie 2014


SHORT MOVIE COMPETITION 2014. MORE INFORMATION CLICK THIS : http://bit.ly/FIFGROUP-DariJadi

Nah kali ini kita akan sedikit me-review film yang saat ini sedang tayang di bioskop kesayangan kalian. Sebenarnya gw sendiri cukup dibayangi rasa penasaran akan film ini. Mulai dari cerita hingga seberapa keren efek yang digunakan dalam proses pembuatan film ini. Sebagai awal film Godzilla ini dibuka dengan prolog berupa cuplikan-cuplikan film hitam-putih mengenai bom nuklir dengan setting tahun 1950-an. Cerita kemudian melompat ke tahun 1999, di mana ilmuwan Dr. Ichiro Serizawa, diperankan oleh Ken Watanabe, dan Vivienne Graham (Sally Hawkins) menemukan sebuah fosil monster raksasa di sebuah tambang di Filipina.

Di Jepang, Joe Broady (Bryan Cranston) Bencana ilmuwan Amerika yang beserta keluarganya tinggal dan menetap di Jepang mencoba menyelamatkan pembangkit listrik tenaga nuklir dari ancaman gempa aneh. Kenyataan pahit harus dialami Joe ketika sang istri, yang juga ilmuwan dan bekerja di tempat yang sama, Sandra Brody ( Juliette Binoche) tewas akibat kebocoran pembangkit setelah gempa besar terjadi. Akibat peristiwa ini daerah ini ditutup dengan isi nuklir dan tidak ada seorang pun berani tinggal.

Lima belas tahun kemudian, putranya dari Joe Broady yaitu Sam Brody (Aaron Taylor) adalah tumbuh dewasa dan bekerja menjadi seorang tentara AS spesialis penjinak bom. Setelah menyelesaikan tugas negara ia kembali berkumpul bersama istri Elle Brody (Elizabeth Olsen) dan putranya di San Fransisco, Belum lama ia berkumpul dengan keluarganya, Sam mendapat kabar dari Jepang dan harus menjemput ayahnya yang membuat ulah disana. Sang ayah ditangkap karena melanggar batas zona karantina nuklir. Pada pertemuan itu, Joe berusaha meyakinkan Sam bahwa kecelakaan lima belas tahun yang lalu tersebut menyimpan rahasia besar dan pemerintah berusaha menutupinya.

Joe dan Sam menerobos zona karantina sekali lagi,mendapati bahwa di dalam zona karantina tidak terdapat jejak radiasi nuklir, namun justru mereka menemui operasi rahasia di bekas fasilitas pembangkit nuklir tempat sang ayah dulu bekerja. Tema besar Godzilla kali ini sebenarnya adalah tentang bahaya limbah nuklir bagi umat manusia dan lingkungan hidup, di mana disimbolkan dengan kedatangan monster yang mengonsumsi radiasi nuklir sebagai makanannya. Kemunculan sang monster ketika adegan di Hawaii pun digambarkan membawa bencana tsunami kepada daratan yang didatanginya, memaksa para penduduk untuk berlarian menghindari terjangan gelombang tsunami. Dalam film ini, sang monster digambarkan sebagai makhluk purba penghuni planet bumi. Kedatangan sang monster semata-mata karena insting mereka untuk hidup dan berkembangbiak,

Selama 90 menit pertama lebih banyak menyajikan narasi untuk membangun cerita dan menjelaskan latar belakangnya namun cerita terasa berputar, lambat dan kurang bisa membawa emosi penonton. Namun demikian, unsur teror dan kengerian sebuah film monster kurang tereksekusi dengan baik. Justru terbesit sebuah pertanyaan “Apakah Godzilla itu sosok baik atau jahat?” Penonton disuguhkan adegan pertarungan antar kaiju dari awal hingga akhir film Godzilla kali ini terkesan pelit memperlihatkan buasnya pertarungan monster.

Godzilla, lebih digambarkan sebagai sosok monster hero yang muncul dari dasar lautan.Dan jika diperhatikan malah film ini seperti sedang menonton film seri dari Ultraman. Di film ini juga menyelipkan pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan dari pencemaran demi kelangsungan hidup manusia dan planet bumi.Untuk efek dan ending filmnya sendiri saya tetap menyukai film Pasifik Rim yang menceritakan tentang monster kaiju juga. Nah itu sedikit review film Godzilla. Buat yang penasaran silahkan menonton filmnya di bioskop kesayangan anda 🙂

Advertisements
My Favorite

Lomba Film Pendek 2014 : 15 Menit, Dapat 20 Juta dan Kamera Go Pro


Emang yah kalo udah kerja tuh beda staminanya, gak kayak jaman pas kuliah. Gerak dikit sekarang bawaannya udah capek, bentar-bentar duduk atau minum. Belom lagi becandanya, bisa-bisa gak kelar deh nih syuting. Berhubung gue dari jurusan broadcast di salah satu kampus di Jakarta, pasti dong gue punya hobby yang kalo sekarang sih dibilang narsis. Contohnya… Continue reading Lomba Film Pendek 2014 : 15 Menit, Dapat 20 Juta dan Kamera Go Pro

My Favorite

Tips Membuat Film Pendek Yang Hemat Budget


Kreatifitas tidak hanya dihasilkan orang-orang dewasa saja. Akhir-akhir ini justru banyak anak muda yang menunjukkan taringnya di dunia perfilman Indonesia. Dengan bermodal kamera handphone, para sineas muda ini berlomba-lomba untuk membuat sebuah karya yang dapat dinikmati oleh orang banyak. Namun memang masih harus banyak usaha jika ingin sampai terkenal. Sikap coba-coba dan tidak takut untuk… Continue reading Tips Membuat Film Pendek Yang Hemat Budget

My Favorite

TRANSENDENCE


Bagi pecinta film fiksi ilmiah, pasti penasaran dong dengan film Transendence. Bukan hanya ceritanya yang keren, aksi pemainnya siapa lagi kalau bukan Johnny Deep yang super keren. Film ini bercerita tentang seorang profesor bernama Will Caster (Johnny Depp) dan istrinya Evelyn (Rebecca Hall) yang meneliti sebuah project tentang teknologi yang hidup seperti layaknya manusia.

Tujuan dari pembuatan teknologi ini adalah agar dapat menyelamatkan dunia, serta menemukan obat untuk semua jenis penyakit dan lainnya. Teknologi menjadi alat yang dapat membawa manusia menuju dunia baru dan penuh kemakmuran. Tetapi rencana ini tidak berjalan mulus, ada sekelompok orang yang justru menolak pemikiran mereka yaitu R.I.F.T ( Revolutionary Independence From Technology) yang dipimpin oleh Bree (Kate Mara), yang berpikir jika manusia sudah berhasil membuat teknologi yang seperti itu, manusia akan menjadi seperti Tuhan dan dunia akan hancur. Karena hal tersebut, Will kemudian ditembak oleh salah seorang anggota R.I.F.T. Will kemudian dilarikan ke rumah sakit dan Will dinyatakan pada kenyataan bahwa hidupnya hanya bersisa 4 sampai 5 minggu lagi dikarenakan peluru yang digunakan untuk menembaknya telah dilapisi oleh polonium, sebuah racun yang mengandung radiasinya yang mematikan.

Kejadian ini membuat Evelyn menjadi sedih. P.I.N.N (Physical Independent Neural Network) adalah sebuah robot yang diciptakan oleh Will yang memiliki kecerdasan buatan yang sedang dikembangkan, ia dapat mendeteksi keberadaan seseorang. Namun, P.I.N.N masih dalam tahap pengembangan. Evelyn dibantu Max Waters (Paul Bettany) mengambil beberapa core atau inti dari P.I.N.N kemudian secara bertahap mengunggah kesadaran dan memory Will selama sisa hidup yang dimiliki oleh Will. Isi dari kepala Will pun akhirnya sukses diupload dalam komputer. Segala warisan dari Will terekam dengan jelas dan Will pun “hidup kembali” dalam komputer. Dia dapat mengenali istrinya, rekan, bahkan hasil kerjanya. Will juga ingin keabadian serta meminta istrinya guna menyambungkannya menuju internet. Hingga, ini menjadi awal bencana yang harus ditanggung umat manusia.

Max ditangkap R.I.F.T yang memang berusaha mencegah agar proyek Will tersebut tidak dilanjutkan. Evelyn dibantu oleh Will melarikan diri dan berhasil membuat laboraturium bawah tanah serta pembangkit listrik tenaga surya di sebuah kota terpencil bernama Brightwood. Teknologi yang dibangun oleh Will dan Evelyn membantu orang sakit yang disembuhkan dengan teknologi nano. Semua itu dikendalikan oleh Will yang ‘hidup’ dalam sebuah komputer.

Over all film ini cukup keren, tapi akan sulit di mengerti apalagi oleh orang awam yang tidak mengenal teknologi masa kini. Dan sebenarnya cerita ini agak cukup membosankan di petengahan tapi endingnya cukup oke. Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa teknologi masa depan akan sangat luar biasa berkembang dan semua orang akan dapat mengaksesnya dengan mudah. Tapi jika tidak dapat dioleh dengan benar ini akan menjadi ancaman dunia, manusia diajak berfikir tentang segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Buat yang penasaran dan ingin tau gimana jalan ceritanya, saksikan film Transendence di bioskop kesayangan anda. Siapa tau kalian juga tertarik membuat film tentang fiksi ilmiah seperti ini.