all about LOVE ♥

Cerita Kopi

19.20. Kedai kopi di daerah Jakarta Selatan. Aku terdiam memandang jalanan ibukota yang masih ramai dengan kendaraan roda empat. Kaca kedai kopi ini memantulkan pendar cahaya dari lampu jauh mobil yang berlalu lalang. Secangkir frappucino latte menemaniku malam ini. Kulihat jam tanganku seakan ingin membuang waktu. Tak ada tanda-tanda akan datang, ia sudah telat 2 jam dari waktu janjian.

Hela nafas panjang membelah kepulan asap rokok di kedai ini. Sungguh sesak, namun raga ini masih saja berharap. Walau terpenjara waktu, dengan detik yang berteriak meminta kesabaranku buyar.

Aku..seorang penulis freelance dari sebuah majalah remaja. Menuliskan mimpi -mimpi indah kisah cinta remaja. Rangkaian kata demi kata seakan menghipnotis para remaja labil yang haus akan dahaga cinta. Malam ini sungguh indah.. Mungkin.. Jika ada kamu menemaniku, membelai lembut rambutku. Mendendangkan irama hangat kasih dari lembutnya suara tenangmu.

“Ada tambahan pesanan nona?” Sang barista membuyarkan lamunanku. Masih terhipnotis aku akan bayangmu.
“Satu tiramissu” dan sabg barista melemparkan senyum sembari pergi dan mempersilahkan aku untuk menunggu.

Baiklah aku tak suka menunggu. Menunggu itu seperti diberi sebuah harapan. Sayup terdengar suara Jose Mari Chan yang mendendangkan lagu Beautiful Girl kesukaanku. Aku memejamkan mata demi mencapai rasa nikmat alunan lembut suaranya. Lagi-lagi malah terlintas bayangmu, aku mendengus kesal. Aku menyeruput kopiku perlahan. Kopi selalu berhasil membuat aku tenang.

Aku pantas bersyukur ia bisa menerimaku dengan segala kekuranganku. Menerima segala keluh kesahku dan menghapus air mataku. Memang aku wanita yang jauh dari sempurna, dan kini aku sempurna di matamu. Aku rindu kamu..masih sanggupkah aku menunggu kamu yang tak berkabar?

20.30 “Maap sayang aku terlambat”. Kudengar suara di ujung telepon genggamku. Kuhela nafas panjang dan berusaha bersikap tenang. “Tidak apa, aku masih menunggu kamu. Cepat datang dan hati-hati”.

Kamu tidak mau khan membiarkan aku menunggu sepi? Tidakkah kamu ingin cepat berjumpa denganku dan menggenggam jemariku? Wahai pangeran waktu, bawalah detik yang kian memburu ini pergi.

Dimana kamu? Dan kopi ini sudah menjadi dingin..

IMG_2898.JPG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s