all about LOVE ♥

Luna and Keenan

sunflowers

Jakarta, November 2015

Sudah sejak semalam hujan turun tanpa ada tanda akan reda. Riaknya mendendangkan bunyi syahdu yang menentramkan hati. Payung berwarna-warni melintasi disepanjang jalan Sudirman. Pagi ini pukul 08.00 WIB, dimana seharusnya kami pekerja Jakarta sudah memulai aktivitas perkantoran.

“Selamat Pagi Luna, jangan pasang wajah sendu dong” sapa Keenan sambil menyuguhkan secangkir cappuccino panas di atas mejaku.

Aku hanya menoleh dan dengan basa basi mengucapkan terima kasih dan kembali memandang kea rah jalanan dari jendela lantai 8 kantorku yang berembun.

Aku menggigil di ruangan ini, kurapatkan jaketku untuk menahan suhu dingin di musim penghujan ini. Teringat kejadian 5 tahun yang lalu yang masih mengusik pikiranku. Kulihat percikan darah dimana-mana, dan kulihat tubuhku terkulai tak berdaya. Tidak ada orang disekelilingku dimana aku gerangan? Apa yang terjadi dengan diriku?

“Luna!!!”

Aku tersentak kaget.  Kulihat Keenan dan Rima sudah berdiri di samping mejaku. Terlihat kekhawatiran di wajah mereka. Baiklah aku harus bersikap stay cool kepada mereka, jangan sampai mereka mengetahui jika aku kembali memikirkan permasalahan yang terjadi 5 tahun lalu.

“Wajahmu terlihat pucat, Lun” Keenan menyipitkan mata tanda curiga.

“Tidak Keenan, aku hanya belum sarapan dan semalam aku pun tidak makan” aku berusaha menenangkan Keenan.

“Luna..coba kamu rubah kebiasaan melamun dan coba untuk makan dengan TERATUR!!” terdengar nada kesal di ucapan Rima. Aku hanya diam dan memandang mereka dengan wajah polos, lalu kembali menenangkan mereka bahwa aku tidak apa-apa.

Lima tahun lalu, kejadian itu masih teringat olehku. Dimana aku terbaring bersimbah darah, dan aku melihat tubuhku sendiri kaku tak bergerak. Jiwaku melayang keluar, tak aku rasakan kesakitan hanya perasaan kosong saat itu. Aku korban tabrak lari. Pengemudi mobil itu pergi meninggalkan tubuhku yang terbujur kaku di tengah jalanan sepi. Aku menangis, berteriak dan berusaha memanggil orang-orang agar menolongku. Tak berdaya aku, aku hanya sesosok jiwa yang melayang. Aku tidak mau mati sekarang, masih banyak yang harus aku perjuangkan di luar sana. Dan muncul cahaya putih menyilaukan. Aku terbangun di kamar sebuah rumah sakit. Aku meraba dahiku, sakit rasanya. Mungkin aku terkena benturan yang sangat keras sehingga sakitnya terasa hingga ke tulang otakku. Aku selamat.

Sudah lima tahun berlalu sejak kejadian tabrak lari di malam itu. Rasanya ada beberapa memori yang hilang dari ingatanku, tapi aku sendiri tidak tahu apa. Aku menjalani hari-hariku seperti biasa. Aku bergosip, mendatangi beberapa mall sehabis gajian, menikmati live musik, dan pergi dengan Keenan. Yaa Keenan, sosok pria yang dengan sabar mendampingi aku selama lima tahun ini. Dengan telaten merawat lukaku hingga sembuh, membantu aku dalam semua aktivitas harianku. Aku tidak mengenalnya, tapi aku merasa nyaman berada disampingnya. Aku tidak keberatan ketika dia membantuku kala itu. Tidak marah bahkan tidak mengusirnya. Ketulusan hatinya sepertinya telah menghipnotisku.

Penah suatu hari aku bertanya kepadanya “Siapakah kamu, mengapa aku tidak megingatmu?”

“Siapapun aku kamu tidak perlu tahu, sebab aku disini yang selalu akan mengingatmu” jawab Keenan dengan senyuman.

Entah mengapa, jawaban itu rasanya sudah cukup membuat aku mengerti. Ketulusan Keenan benar-benar terasa mengharukan relung hatiku.

Menurut Rima, Keenan sudah lama menyukaiku dan aku pun juga mempunyai perasaan yang sama. Kami pun sudah hampir bertunangan hingga kejadian naas itu menimpaku. Hari berganti hari, hingga tahun berganti Keenan tetap setia disampingku. Hingga dikala malam itu, Keenan tertidur disamping tempat tidurku. Ia menangis.

“Maafkan aku, Luna. Salahku yang tidak bisa menjagamu hingga kamu seperti ini. Janganlah kamu melupakan aku. Walau matahari tak terbit tinggi, walau langit tak lagi biru”.

“Mengapa aku?” Air mata jatuh di pipiku.

Keenan :

Aku tidak melihat kamu dari parasmu. Aku tidak melihat seindah apa pakaianmu. Aku hanya melihat kamu dari ketulusan, kepolosan dan aku suka melihat kamu ketika tertawa. Ingin rasanya aku memiliki semua yang ada pada dirimu. Biarlah aku menjaga kamu. Biarlah cinta ini mengiringi kita menuju kebaikan. Aku hanya meminta satu kepadamu, dimanapun kamu berada selalu kenanglah aku sebab aku disini selalu mengenang dan mengingat kamu.

Aku :

Aku memang kehilangan sebagian ingatanku. Tapi demi Allah aku tidak melupakan kamu. Sebaik apa cinta, mungkin cintamu yang paling baik. Bantulah aku dalam mengingat dalam ibadah, karena aku tidak pantas menolak orang seperti kamu.

Terlingkarlah cincin di jari manisku.

“Jangan menoleh ke lain hati yah, jangan juga kamu mendua. Kamu sudah milikku” ledek Keenan padaku.

Aku mencubit tangannya dengan gemas. Kasih ini sudah terbina, dan biarlah kami menjaga cinta ini. Kisah kami mungkin seperti cerita drama Korea, atau seperti kisah cinta di film Glee. Kisah kami tidaklah  sempurna. Biarlah kami berbahagia dengan cinta dari Allah.

Luna & Keenan

One thought on “Luna and Keenan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s