all about LOVE ♥ · Uncategorize

Seperti yang Kumiliki..

IMG_3551.JPG
Aku menghela nafas panjang. Sudah seharian ini gak ada komunikasi dari Ronald. Bukan hari ini saja, kalau mau dihitung memangnya kita pernah intens berkomunikasi jika hari libur? Akhirnya kubuka kembali buku Chicken Soup yang sedang kubaca dan berharap sejenak untuk tidak memikirkan dirinya.

Aku Renee, usia 24 tahun. Bukan cewek istimewa, bisa dibilang cewek tukang mikir. Apapun yang bisa dipikirin, pasti menjadi rutinitas harianku. Beginilah hari Mingguku yang dihabiskan dengan kegiatan tak berarti. Bermain game, membaca buku, membuka Path berharap bisa melihat updetan terbaru dari kegiatan Ronald atau tentangku. Ahh harapan aja, mana mungkin jangan terlalu ngarepin Ren. Nanti malah kecewa sendiri.

Ronald adalah orang terdekatku saat ini. Entah mengapa dia mau menerimaku yang notabene mempunyai cerita hidup yang yahh seperti sinetron. Kadang aku berpikir, betapa aku iri dengan kedekatan dia dan keluarganya. Saat aku berkunjung ke rumahnya, kudapati kehangatan yang kurindukan. Sudah berapa lama tak kurasakan perasaan seperti ini. Walaupun aku dan Ronald dekat, jarang aku menceritakan ini. Aku berharap dia tidak mengetahui betapa sesaknya kadang hati ini, aku tak mau membuatnya berpikir aku sedih.

“Kak Ren, buatin nasi goreng dong” terdengar suara Nina keponakanku dari tangga. Sukses ia membuyarkan lamunanku. Mungkin gak baik juga terlalu berpikir seperti ini, kayaknya aku perlu refreshing deh. “Iyah Nin, nanti kak Ren buatin. Gak pedes yah” Nina tersenyum jail dan mengucapkan terima kasih sambil ngeloyor ke atas.

Setelah membuatkan nasi goreng untuk Nina, aku kembali duduk diruang tamu. Aku mengingat perdebatanku semalam dengan Ronald. Kupikir aku terlalu egois dengan memaksakan sesuatu yang tidak bisa. “Sampai kapan kamu tidak akan memberitahuku, Ronald?” aku bertanya bahkan sedikit memohon.
“Apa yang kamu ingin ketahui, tak bisa aku ceritakan sekarang Ren. Mengertilah..”
“Aku pikir..kamu bisa berbagi apa yang menjadi pikiranmu kepadaku. Kita akan hadapi bersama segala permasalahan khan?”
Aku mengakhiri percakapan yang tak kunjung ada kepastian jawaban. Aku berusaha bersikap wajar dan seolah aku baik-baik saja. Kuucapkan selamat tidur sebagai percakapan terakhir dengannya malam itu.

Aku tidak semata-mata memaksanya, tapi terkadang terlalu banyak pertimbangan yang menurutku tak harus seperti itu. Berbicara dengan Ronald merupakan sesuatu yang sangat berarti untukku, memilikinya merupakan anugerah untukku saat ini. Tapi seperti ada tembok besar yang memisahkan, tak terlihat di antara kami.

Aku memang tak istimewa. Kehidupanku tak seistimewa kebanyakan anak perempuan yang penuh kasih sayang. Tak pernah kurasakan hangatnya sentuhan tangan ibuku, bahkan sudah kulupakan bagaimana kuatnya lengan ayahku saat ia menggendongku dulu. Tapi aku berharap, jangan terlalu mengasihaniku. Aku tahu kamu sayang kepadaku, Ronald..

Seminggu ini kurasakan sakit di perutku. Rasanya seperti dihempaskan dari tebing tinggi ke dasar lautan yang dalam. Ughhh aku meremas perutku, membuka tasku untuk mengeluarkan obat penghilang rasa sakit. Obat ini sangat manjur dikala tersesak. Hari ini aku akan kencan dengan Ronald, jangan sampai ia tahu jika sakit ini masih sering kambuh.

“Hai Ren, sudah lama?” Ronald menghampiriku setelah ia memarkirkan motornya tak jauh dari tempat kita janjian. Aku mengelengkan kepalaku “tidak, jangan khawatir” sahutku dengan wajah ceria.
“Film apa yang akan kita tonton hari ini?” aku menggumamkan pertanyaan ini kepada Ronald, sambil menyebutkan beberapa film yang saat ini sedang tayang di bioskop. “Terserah kamu, Ren” dan aku mencubit lengannya. “Jangan terserah aku terus dong, bagaimana jika kali ini kamu yang memutuskan?” Aku memasang wajah cemberut.
Ronald membelai kepalaku “baiklah bagimana dengan Dracula? Sepertinya seru” Ronald melirik beberapa poster yang terpasang di dinding bioskop, lalu kemudian berjalan untuk membeli tiket. “Untuk dua orang”.
Saat bersamanya merupakan saat dimana aku merasakan rasa nyaman. Mungkin jika nanti kita sudah tak bersama, aku janji untuk tetap mengenang semua tentangnya. Kujadikan semua tentangnya, kenangan yang paling hangat.

Ronald akan berulang tahun seminggu lagi. Tetapi sampai hari ini aku harus berada di rumah sakit untuk check up keadaanku. Aku ingin memberikannya sebuah hadiah, dan menjadikan hari ulang tahunnya penuh kenangan saat denganku.

Salahku memang, berminggu-minggu aku tak menghiraukan sakit di perutku. Semakin parah di satu minggu menjelang ulang tahunnya. “Maag nya sudah akut, dan bertambah parah karena kamu tidak meminum obatnya Renee. Mengapa kamu begitu susah sekali” kata dokter Trisna sambil memandang hasil rontgenku. “Kamu harus segera melakukan pemulihan, karena sangat berbahaya jika menjalar ke bagian lain”

Mesti aku protes dan bersikeras aku tidak apa-apa, dokter Trisna tetap tidak mengizinkanku untuk beraktifitas berat selama dua minggu ini. Tapi bagaimana dengan ulang tahun Ronald? Aku menghela nafas dan menganggukan kepala, walau dokter Trisna masih terus menceramahiku karena ulahku.

“Halo Ren, kamu dimana?”
Gawat Ronald meneleponku, aku harus bersikap tenang. Jangan sampai ia mengetahui keberadaaanku disini. “Aku sedang ke supermarket membeli beberapa kebutuhan rumah. Apa apa?” tumben dia meneleponku. “Rasanya aku akan menceritakan sesuatu kepadamu. Kamu ingat perdebatan kita beberapa waktu lalu?” Aku terdiam sejenak. Akhirnya..tanpa perlu aku memaksa, aku akan mendapat jawaban.
“Di hari ulang tahunku, aku akan menceritakannya padamu. Aku janji” sahut Ronald.
“Baiklah, bye sayang” aku senang sekali mendapat kabar itu. Aku tak sabar menunggu. Baiklah aku akan mencari kado untuknya. Maafkan aku dokter Trisna, tapi ini lebih penting daripada rasa sakitku.

“Baiklah Renee, sudah saatnya aku akan menceritakan ini kepadamu. Bagaimana perasaanku kepadamu dan bagaimana aku tak mau melihatmu bersedih” seruku sambil membetulkan kemeja flanelku yang sedikit kusut.
Kukirimkan pesan singkat kepada Renee. “Aku akan menjemputmu jam 7malam. Tunggu aku yah, sayang” SEND RENEE. Success.
Jantungku berdegup kencang, penuh rasa suka cita. Pasti Renee akan kaget dengan pertemuan hari ini. Aku sudah mempersiapkan sebuket bunga matahari kesukaannya. Aku sudah membayangkan wajahnya yang tersenyum dan memerah pasti. Sudah hampir setengah 7 aku akan bersiap menjemput Renee. Tapi mengapa aku merasa ada yang tidak enak yah. Kutepis segala keraguan dalam hatiku, sudah kubayangkan bagaimana raut wajahnya nanti. Tak lupa kubawa buket bunga matahari itu, rumah Renee tak begitu jauh dari rumahku. Pertemuan kami pun berlangsung saat kami masih menjadi mahasiswa. Sudah hampir 2 tahun hubungan kami.

Aku akan menghubungi Renee dulu untuk memastikan apakah ia sudah siap dengan kencan kita hari ini. Pasti dia membuatkan kue untukku, hobinya khan yang repot-repot. Terakhir dia sengaja merekam suaranya hanya untuk memberi aku semangat saat menjalani tes pekerjaan di tempat baru. Mengapa panggilanku tak dijawab yah. Mungkin sudah 20 panggilan aku berusaha menghubunginya. Baiklah aku menuju ke rumahnya.

Mengapa rumahnya ramai dan terpasang bendera kuning? Perasaanku bertambah tak enak saat melihat omnya sedang berusaha menenangkan Nina yang tak berhenti menangis. Aku mendongak kemudian memarkirkan kendaraanku di seberang rumah Renee. Om Dion menyadari kedatanganku, lalu menghampiriku. “Maafkan segala kesalahan Renee yah nak Ronald”.
“Maksud om Dion?? Kenapa om yang meminta maaf?” Rasanya aku menjadi susah bernafas. Ada apa ini??
“Tadi sore Renee sudah pergi meninggalkan kita semua, om kira ini terlalu mendadak. Semua tidak ada yang menyangka” om Dion berusaha tegar menceritakan tentang Renee, keponakannya yang sudah dianggap anak itu.
Meninggal? Renee meninggal? Untuk sejenak aku tidak dapat berkata apa-apa. Lalu sambil menenangkan diri sendiri aku meminta izin untuk melihat Renee dan memastikan bahwa om Dion hanya mengerjaiku karena hari ini ulang tahunku. Kudapati Renee terbujur kaku, wajahnya masih terlihat manis.
Kenapa? Ada apa denganmu?
Renee seseorang yang penuh cinta, masih kuingat tawa renyahnya terakhir kita bertemu. Dan kematiannya manyadarkan aku beberapa hal, mengulang segala momen ketika bersamanya. Betapa berharganya dirinya, bersamanya aku merasakan kedekatan yang sebenarnya yang menjadikan aku menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura.
Sayup aku mendengar suaranya saat marah, “siapa yang ngambek!” Aku tahu dia tidak benar-benar marah. “Kamu penting untukku, Ronald. Rinduku itu kamu”.

Aku merasakan penyesalan yang mendalam. Menyesal bahwa aku tak pernah mengucapkan perasaan ini kepadamu Renee. Aku pernah membaca tulisan dari Kahlil Gibran, “seorang kimiawan yang bisa menyarikan dari unsur hatinya, cinta, rasa hormat, kerinduan, kesabaran, penyesalan, kejutan dan pengampunan. Dan menggabungkan semua itu menjadi satu bisa menciptakan atom yang disebut cinta”.

Aku meletakkan buket bunga matahari kesukaannya disampingnya, yang tak akan pernah diterimanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s