all about LOVE ♥

Adore

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/372/34517743/files/2014/12/img_4256.jpg
Jatuh cinta itu ada yang bilang adalah sebuah perkara sederhana, sementara cinta sejati lebih dari luar biasa. Bukan sekadar perasaan suka, bukan pula sebuah euforia sementara. Cinta sejati tak pernah pergi, meskipun harus tinggal sendiri dalam hati yang terlalu sepi.

Hei Kamu, Pria Sederhana yang membuatku jatuh cinta.

“Sayang?”
Mungkinkah panggilan ini masih terlalu asing di telingamu? Maaf ya, nyatanya lidahku pun masih terlalu kaku saat harus menggunakan kata itu. Aku tau kamu pasti bisa memaklumi. Kadang aku berpikir, jangan-jangan hanya aku semata yang terlalu antusias dengan hubungan ini. Atau mungkin kita hanya belum terbiasa..?

Sayang…Eh, maksudku “kamu”! Apa kabar dunia warna-warnimu? Oh iya, apa kabar hobi dan kesukaanmu? Tapi sepertinya aku masih belum mengetahui pasti kedua hal itu.

Hei, tahukah kamu bahwa aku menikmati waktuku bersamamu? Mencerapi cerita-cerita tentang momen apapun denganmu, soal rekan kerja dan atasan, hingga masalah kecil lainnya.

“Aku merindumu – merindu kesederhanaan saat bersamamu…”

Kamu adalah pria sederhana, aku pun wanita yang jauh dari predikat sempurna.

Siapa pun pasti tak ada yang bisa menyangka? Momen sederhana itu justru membawa kita pada letup-letup rasa yang luar biasa. Tak dapat kuingat, pernahkah kamu memulai percakapan pertama denganku via pesan di ponselmu ? Ahh sudahlah..

Kamu pasti mulai risih saat aku mengingatkanmu pada momen-momen itu, ‘kan? Hehehe. Aku memang senang menggodamu, mengungkit-ungkit perkara siapa yang gencar mendekati lebih dulu. Ya, sudahlah, tak perlu pasang muka masam. Toh, akhirnya pun aku jatuh ke pelukanmu meskipun sempat pura-pura jual mahal.

Semua memang tampak baik-baik saja. Aku jatuh cinta padamu, kamu pun merasakan hal yang sama. Bahagia adalah ketika kita bisa saling menggengam tangan dengan erat. Saat aku meletakkan kepalaku di bahumu, yang buru-buru disambut usapan hangat tanganmu di rambutku.

Sayang, manusia tak pernah layak menjalani hidup yang begitu-begitu saja. Tak juga berhak melewatkan waktu yang berharga untuk hal-hal sederhana seperti saling pandang atau pelukan berjam-jam. Kita berdua memang patut ditempa. Komitmen yang kita bangun pun pantas diuji coba.

Aku ingat, pembicaraan denganmu. Saat kamu menanyakan kegiatanku hari itu. Lidahku kelu tak sanggup berucap. Aku tahu, kamu pasti sangat benci akan sikapku yang lebih banyak diam. Padahal, aku memang harus bisa menerima jika kita harus terpisah sementara. Aku terlalu berlebihan yah, kamu khan sedang bekerja. Tapi kamu hanya bersamanya, apakah seorang wanita mampu melihat kekasihnya berdua walau notabene hanya rekan kerja semata? Aku mampu. Keharusan.

Tunggu! Apa semangat kita sama besarnya? Atau hanya aku saja? Jika diibaratkan pendakian, akankah kita mencapai puncak sambil tetap bergandengan tangan? Ataukah salah satu justru memilih menyerah karena tak sanggup menahan lelah.

Terjawab sudah. Kamulah ternyata yang lebih dulu mengaku kalah. Marah kepadaku, marah dengan guyonanku. Mungkin itu salahku.. Dirimu tak mengetahui maksudku.

“Membayangkan kita berdiam diri saja selalu membuatku mual. Rasanya seperti ingin muntah. Aku pikir aku bisa mati jika tak lagi bisa berbicara denganmu…”

Aku tak lagi dapat menyandarkan kepalaku di bahumu.

“Aku terjatuh lagi, tapi jatuhku kali ini sakit sekali. Aku tak mau siapa-siapa, kecuali diriku sendiri.
Ya, aku tahu bahwa kamu tahu jika saat ini aku hanya sedang berusaha tegar. Aku yang enggan menangis di depanmu memaksa kakiku berdiri meskipun keduanya masih bergetar. Sudah pasti aku bukan orang pertama atau satu-satunya di dunia ini yang terpaksa merasakan momen yang tak menyenangkan.

Kadang kala menunggu pesan balasan darimu membuatku kesal. Aku berulang kali mengingatkan diriku sendiri, mungkin tidak sedang waktunya. Hanya sebuah balasan pesan singkat, membuat aku menunggu berjam-jam lamanya. Kamu tahu, aku lebih senang kamu menghargai aku saat sedang bersamaku. Tanpa memegang ponsel yang menjadi rutinitas harianmu. Ahh sudahlah..

Ada cerita yang belum siap untuk patah lagi. Ada malam yang terus menolak sepi. Dan ada rindu yang tak ingin kandas. Disaat kamu pergi, aku juga diam. Hanya berharap kamu berbalik dan kembali dalam hati.

Karena kamu ganjil, dan aku beserta jiwaku akan berusaha menggenapinya. Hei Kamu, Pria Sederhana yang membuatku jatuh cinta..

2 thoughts on “Adore

  1. Canda itu memang menyenangkan tapi dalam waktu yg santay ketika emosi dalam keadaan stabil, justru candaan adalah moment yg paling mudah di ingat.

    Waktu itu aku begitu letih, dan mendapat sikap yg tidak aku harapkan. Begitu bnyak aku berfikir ke depan, baru sebuah krikil yg tidak tau dr mana asalnya mengoyangkan kereta yg kita tempati. Bentuk kerikil apa lagi nanti yg akan di hadapi.

    Meski waktu tak dapat di berikan penuh pada mu. Harapan ku semoga kamu tidak dalam ke kosongan. Semoga amarah, sepi, jenuh pergi jauh2 dari mu.

    Belum seluruh nya kamu tau akan kebiasaan buruk ku, kejelekan ku, ke masa bodoan ku. Terfikir apa kamu bakal emosi, marah apa bila selalu melihat hal buruk dr ku. Jgn kau siksa diri dari apa yang engkau belum tau seluruh nya.

    Sampai saat ini aku msh berdoa kata kita semoga tercapai. Maafkan aku yg selalu membuat mu jengkel di setiap hari.

  2. haiii kak salam kenal^^
    maaf ya kak sebelumnya karena comment ku ngk nyambung sma postnya kakak. maaf banget;) tapi aku udh kepo bgt sma kakak nih kalo boleh tau skrg kakak kerja dmna ya?
    makasih sebelumnya mohon dibalas ya kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s