all about LOVE ♥

Angin Pujaan Hati

Langit masih setengah gelap, entah sudah pukul berapa saat ini. Kepalaku masih terlalu berat saat ini untuk menebak waktu. Mungkin sebentar lagi pagi, pikirku. Kucoba beranjak turun dari singasanaku, kasur maksudku. Hey aku tidak sedang melawak.

Dihadapanku ombak sudah bergulung seakan berlomba menyambutku. Aku melihatmu berdiri tegak dengan senyum kebanggaanmu, seperti biasa kubalas senyummu, masih sama yang aku lakukan. Masih seperti saat kita jumpa pertama kali. Senyummu selalu tersimpan di mataku, menyenangkan dan menegangkan. Selalu seperti itu.

Aku berusaha membersihkan pasir putih dari kakiku. Kamu mencoba membersihkan diri dari pasir nakal yang menempel di bajumu. Aku sangat menyukai kamu dengan kaos hijau itu, menyejukkan seperti lembah di pagi hari. Coklatnya matamu mengingatkanku pada pohon pinus kala itu, dimana kita bercanda di bawah rindangnya. Tak pernah kulupakan, karena ada laci khusus dalam hatiku.

Aku mabuk dalam candu yang kubuat sendiri. Aku ingin segera menghampirimu, agar bersama menyambut matahari yang perlahan keluar dari sudut timur garis cakrawala. Kuulurkan tangan meminta bantumu untuk berdiri, aku ingin bersamamu menyambut fajar setiap pagi. Menghabiskannya sampai kita menjadi renta.

Entah kenapa kamu hanya menggeleng dan tersenyum, seakan mengatakan aku harus berdiri sendiri. Tak mampu rasanya, seakan sendi-sendi tubuhku merasa enggan akan pintaku. Kenapa cinta ini bisa jatuh di setiap sentinya?

Aku selalu membayangkan indahnya mata coklatmu setiap kamu mau pergi. Aku jatuh hati pada lengan yang selalu setia menopangku, melingkari bahuku setiap kali kita berjalan bersama. Aku jatuh cinta pada semua yang ada pada dirimu, bahkan dari tiap derit langkahmu saat berjalan.

Ketidakberdayaanku seakan membuat kita berpisah ribuan teluk. Tahukah kamu, bahwa ada keterpaksaan dalam diriku yang harus kamu peluk. Temani aku disini, disampingku selalu.

“Tak perlu kamu buat aku berdiri, cukup pegang tanganku saja”. Kucoba kembali mengulurkan tangan. Aku heran kenapa kamu hanya diam tak membantu. Ada apa dengan telinganya.

Kamu tidak menggeleng. Kulihat raut berubah. Ada bulir yang terlepas dari sudut matanya. Kamu menangis. Aku tak suka melihatmu seperti ini.

Kulihat kamu sudah berjalan menjauh.
“Kenapa kamu tidak membantuku?” teriakku keras bersama isakan tangis.

Seketika kamu berpaling kepadaku sambil berkata,
“Kamu pasti sanggup berjalan. Tanpaku. Maafkan aku dan sampai jumpa”.
Perlahan aku kehilangan bayanganmu.

Kamu tidak boleh pergi.
Mungkin seharusnya saat itu aku menahanmu lebih lama…wahai anginku..

image

SherlyKarakawa

One thought on “Angin Pujaan Hati

  1. Angin behembus, angin yang terasa tak lagi sama Dengan angin yang lalu, angin yang lalu telah bersatu dengan angin yang lain. Hidup tidak sama seperti yang lalu. Berusaha baik dari yang lalu. Angin tidak hilang, dia hanya dapat melihat mu seperti biasa dan menyentuhmu dengan hembusan nya. Ingin angin membantumu memberikan kebahagian, tetapi angin tersebut memiliki keterbatasan, dia hanya mampu melihat mu dan menyentuhmu. Ingin sekali membawa mu berekreasi, namun ada beberapa kendala yang secara tidak langsung kamu menyadari nya. Angin selalu Ingin membuat yang kamu butuhkan terpenuhi memberikan warna pada trap hidup mu. Tapi angin hanyalah angin, bergantung pada iklim dan situasi setempat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s